Kepulauan Yapen — Pendampingan terhadap program pencegahan dan penanganan stunting di Kampung Papuma, Kabupaten Kepulauan Yapen, memasuki tahap akhir. Ketua DPRK Kepulauan Yapen, Ebzon Sembai, bersama istrinya kembali turun langsung ke kampung tersebut untuk melakukan kunjungan ketiga sekaligus kunjungan terakhir, Senin (7/9/2026).
Kunjungan itu menjadi penanda berakhirnya masa pendampingan dan intervensi bantuan gizi yang telah berlangsung selama tiga bulan.
Dalam program tersebut, terdapat satu balita dan dua ibu yang menjadi sasaran intervensi. Selama masa pendampingan, mereka memperoleh pemantauan serta bantuan gizi sebagai bagian dari upaya mencegah sekaligus menangani persoalan stunting.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi Ebzon, kunjungan terakhir bukan sekadar menutup rangkaian kegiatan. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung perkembangan kondisi masyarakat yang menjadi sasaran intervensi setelah mendapatkan pendampingan selama tiga bulan.
“Ini merupakan kunjungan kami yang ketiga sekaligus terakhir di Kampung Papuma, karena masa pendampingan yang ditetapkan sudah berlangsung selama tiga bulan. Selanjutnya, hasil dan perkembangan akan menjadi bahan evaluasi,” ujar Ebzon.
Ebzon menjelaskan, program pendampingan tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut program pemerintah pusat yang pelaksanaannya diteruskan hingga ke daerah melalui dinas terkait.
Karena itu, seluruh perkembangan selama masa intervensi menjadi bagian penting yang perlu dicatat dan dievaluasi.
Data mengenai kondisi masyarakat sasaran selama tiga bulan pendampingan nantinya akan dikumpulkan untuk menjadi bahan evaluasi program. Evaluasi tersebut tidak berhenti pada tingkat daerah, tetapi selanjutnya menjadi bagian dari evaluasi pada tingkat nasional.
Menurutnya, keberhasilan penanganan stunting tidak dapat hanya dibebankan kepada satu pihak. Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, keluarga, hingga masyarakat memiliki peran penting dalam memastikan intervensi berjalan secara berkelanjutan.
“Penanganan stunting membutuhkan kerja sama semua pihak. Hasil pemantauan selama tiga bulan ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai perkembangan sasaran intervensi dan menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya,” kata Ebzon.
Berakhirnya masa pendampingan langsung selama tiga bulan di Kampung Papuma bukan berarti perhatian terhadap persoalan kesehatan masyarakat ikut berhenti.
Justru, hasil dari proses tersebut menjadi pijakan untuk menentukan apakah diperlukan langkah lanjutan terhadap masyarakat yang sebelumnya menjadi sasaran intervensi.
Kunjungan ketiga Ebzon Sembai bersama istrinya sekaligus menandai selesainya rangkaian pendampingan langsung di Kampung Papuma.
Setelah itu, perkembangan satu balita dan dua ibu yang menjadi sasaran program akan masuk dalam tahapan evaluasi berikutnya, mulai dari tingkat daerah hingga menjadi bagian dari evaluasi program pada tingkat nasional.
Program tersebut diharapkan tidak hanya menjadi intervensi jangka pendek, tetapi mampu memberikan gambaran nyata mengenai kondisi masyarakat sekaligus menjadi dasar dalam menentukan kebijakan penanganan stunting ke depan.












