Oleh: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Biak
Duka kembali menyelimuti Tanah Biak Numfor. Ledakan bom yang diduga merupakan sisa peninggalan Perang Dunia II di Kampung Yenures, Kabupaten Biak Numfor, telah merenggut korban nyawa warga dan meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat yang terkena musibah. Peristiwa ini bukan sekadar tragedi kemanusiaan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa jejak perang yang telah berakhir puluhan tahun lalu masih menyimpan ancaman nyata bagi kehidupan masyarakat hingga hari ini.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Atas nama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Biak, kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Kehilangannya nyawa dalam peristiwa ini yang seharusnya dapat dicegah merupakan duka bersama yang patut menjadi perhatian seluruh pihak.
Tragedi di Yenures tidak dapat dipandang sebagai kecelakaan biasa. Ledakan tersebut membuka mata kita bahwa warisan perang yang tertinggal di berbagai sudut wilayah Biak masih menjadi ancaman laten yang sewaktu-waktu dapat merenggut korban jiwa. Di tengah suasana damai yang telah dinikmati selama lebih dari tujuh dekade, masyarakat ternyata masih hidup berdampingan dengan risiko yang berasal dari masa lalu.
Sebagai salah satu wilayah yang memiliki nilai historis penting dalam sejarah Perang Dunia II di kawasan Pasifik, Biak menyimpan banyak peninggalan perang berupa bunker, gua pertahanan, amunisi, hingga bom yang belum meledak. Peninggalan tersebut memang memiliki nilai sejarah yang tinggi dan menjadi bagian dari identitas perjalanan daerah ini. Namun demikian, nilai sejarah tidak boleh mengesampingkan aspek keselamatan manusia. Sejarah harus dijaga, tetapi keamanan masyarakat harus menjadi prioritas utama.

Peristiwa di Yenures semestinya menjadi momentum bagi semua pihak untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keberadaan benda-benda berbahaya sisa perang yang masih tersebar di wilayah Biak Numfor. Pemerintah daerah, aparat keamanan, dan instansi terkait perlu mengambil langkah yang lebih terukur dan sistematis dalam melakukan identifikasi, pemetaan, serta penanganan terhadap potensi ancaman tersebut.
Lebih dari itu, edukasi kepada masyarakat juga menjadi kebutuhan yang mendesak. Masih banyak warga yang belum memiliki pengetahuan memadai mengenai ciri-ciri bahan peledak atau prosedur yang harus dilakukan ketika menemukan benda yang dicurigai sebagai amunisi sisa perang. Padahal, kesadaran dan kewaspadaan masyarakat merupakan benteng pertama dalam mencegah jatuhnya korban jiwa.
Karena itu, HMI Cabang Biak mendorong adanya koordinasi yang lebih intensif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta pihak-pihak yang memiliki kompetensi dalam penanganan bahan peledak untuk melakukan pemetaan dan sterilisasi wilayah yang berpotensi menyimpan bom maupun amunisi aktif. Langkah ini bukan hanya penting, tetapi sudah menjadi kebutuhan mendesak demi menjamin keselamatan masyarakat.

Tragedi Yenures juga memberikan pelajaran berharga bahwa sejarah tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dikelola secara bertanggung jawab. Jejak perang yang tersisa di tanah Biak bukan sekadar bagian dari masa lalu, melainkan realitas yang masih memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat saat ini. Oleh sebab itu, negara dan seluruh pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa peninggalan perang tidak lagi menjadi sumber ancaman bagi generasi yang hidup dalam masa damai.
Korban nyawa yang hilang tidak akan pernah tergantikan. Namun, duka yang lahir dari tragedi ini tidak boleh berakhir hanya sebagai catatan peristiwa. Ia harus menjadi panggilan bagi semua pihak untuk bertindak, mengambil langkah nyata, dan menghadirkan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat.
Sebab hakikat perdamaian bukan sekadar berhentinya peperangan. Perdamaian yang sesungguhnya adalah ketika setiap warga dapat hidup dengan rasa aman, tanpa bayang-bayang ancaman yang ditinggalkan oleh perang yang telah lama usai. Tragedi Yenures harus menjadi yang terakhir. Dan dari duka inilah, semoga lahir komitmen bersama untuk memastikan bahwa sejarah tidak lagi menelan korban di masa depan.








