Perang Telah Usai, Ancaman Masih Tersisa: Refleksi HMI Cabang Biak atas Tragedi Bom di Yenures

- Editorial Team

Senin, 1 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OlehHimpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Biak

Duka kembali menyelimuti Tanah Biak Numfor. Ledakan bom yang diduga merupakan sisa peninggalan Perang Dunia II di Kampung Yenures, Kabupaten Biak Numfor, telah merenggut korban nyawa warga dan meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat yang terkena musibah. Peristiwa ini bukan sekadar tragedi kemanusiaan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa jejak perang yang telah berakhir puluhan tahun lalu masih menyimpan ancaman nyata bagi kehidupan masyarakat hingga hari ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Atas nama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Biak, kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Kehilangannya nyawa dalam peristiwa ini yang seharusnya dapat dicegah merupakan duka bersama yang patut menjadi perhatian seluruh pihak.

Tragedi di Yenures tidak dapat dipandang sebagai kecelakaan biasa. Ledakan tersebut membuka mata kita bahwa warisan perang yang tertinggal di berbagai sudut wilayah Biak masih menjadi ancaman laten yang sewaktu-waktu dapat merenggut korban jiwa. Di tengah suasana damai yang telah dinikmati selama lebih dari tujuh dekade, masyarakat ternyata masih hidup berdampingan dengan risiko yang berasal dari masa lalu.

Sebagai salah satu wilayah yang memiliki nilai historis penting dalam sejarah Perang Dunia II di kawasan Pasifik, Biak menyimpan banyak peninggalan perang berupa bunker, gua pertahanan, amunisi, hingga bom yang belum meledak. Peninggalan tersebut memang memiliki nilai sejarah yang tinggi dan menjadi bagian dari identitas perjalanan daerah ini. Namun demikian, nilai sejarah tidak boleh mengesampingkan aspek keselamatan manusia. Sejarah harus dijaga, tetapi keamanan masyarakat harus menjadi prioritas utama.

Peristiwa di Yenures semestinya menjadi momentum bagi semua pihak untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keberadaan benda-benda berbahaya sisa perang yang masih tersebar di wilayah Biak Numfor. Pemerintah daerah, aparat keamanan, dan instansi terkait perlu mengambil langkah yang lebih terukur dan sistematis dalam melakukan identifikasi, pemetaan, serta penanganan terhadap potensi ancaman tersebut.

Lebih dari itu, edukasi kepada masyarakat juga menjadi kebutuhan yang mendesak. Masih banyak warga yang belum memiliki pengetahuan memadai mengenai ciri-ciri bahan peledak atau prosedur yang harus dilakukan ketika menemukan benda yang dicurigai sebagai amunisi sisa perang. Padahal, kesadaran dan kewaspadaan masyarakat merupakan benteng pertama dalam mencegah jatuhnya korban jiwa.

Karena itu, HMI Cabang Biak mendorong adanya koordinasi yang lebih intensif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta pihak-pihak yang memiliki kompetensi dalam penanganan bahan peledak untuk melakukan pemetaan dan sterilisasi wilayah yang berpotensi menyimpan bom maupun amunisi aktif. Langkah ini bukan hanya penting, tetapi sudah menjadi kebutuhan mendesak demi menjamin keselamatan masyarakat.

Tragedi Yenures juga memberikan pelajaran berharga bahwa sejarah tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dikelola secara bertanggung jawab. Jejak perang yang tersisa di tanah Biak bukan sekadar bagian dari masa lalu, melainkan realitas yang masih memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat saat ini. Oleh sebab itu, negara dan seluruh pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa peninggalan perang tidak lagi menjadi sumber ancaman bagi generasi yang hidup dalam masa damai.

Korban nyawa yang hilang tidak akan pernah tergantikan. Namun, duka yang lahir dari tragedi ini tidak boleh berakhir hanya sebagai catatan peristiwa. Ia harus menjadi panggilan bagi semua pihak untuk bertindak, mengambil langkah nyata, dan menghadirkan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat.

Sebab hakikat perdamaian bukan sekadar berhentinya peperangan. Perdamaian yang sesungguhnya adalah ketika setiap warga dapat hidup dengan rasa aman, tanpa bayang-bayang ancaman yang ditinggalkan oleh perang yang telah lama usai. Tragedi Yenures harus menjadi yang terakhir. Dan dari duka inilah, semoga lahir komitmen bersama untuk memastikan bahwa sejarah tidak lagi menelan korban di masa depan.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel terasweisiho.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

“Cipayung Biak Numfor Desak DPD KNPI Papua Tinjau Kembali SK Caretaker KNPI Biak Numfor Yang Telah Berakhir”
Reses di Korombobi, Ketua DPRK Yapen Pastikan Aspirasi Masyarakat Tidak Sekadar Janji
Ebzon Sembai Bangga Batik Saireri Karya Mama Papua Tampil Unik dan Mendunia
DPRK Yapen Ikuti Bintek di Jakarta, Perkuat Kompetensi Wujudkan Pemerintahan Bersih
DPRK Yapen Bahas RTRW 2026-2046, Trison Ayomi Tekankan Perlindungan Hak Ulayat Adat
DPRK Yapen Soroti 28 Jabatan Masih PLT Saat Bahas LKPJ Bupati 2025, RSUD Serui Ikut Disorot
Motivasi Ketua DPRK Yapen untuk Lulusan Dawai: Jangan Takut Hadapi Tantangan Perubahan
Kita Telah Dilepaskan dari Dosa’ Pesan Kuat Ketua DPRK Yapen di Karnaval Paskah 2026

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 23:28 WIT

Perang Telah Usai, Ancaman Masih Tersisa: Refleksi HMI Cabang Biak atas Tragedi Bom di Yenures

Sabtu, 30 Mei 2026 - 23:34 WIT

“Cipayung Biak Numfor Desak DPD KNPI Papua Tinjau Kembali SK Caretaker KNPI Biak Numfor Yang Telah Berakhir”

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:56 WIT

Reses di Korombobi, Ketua DPRK Yapen Pastikan Aspirasi Masyarakat Tidak Sekadar Janji

Selasa, 12 Mei 2026 - 11:52 WIT

Ebzon Sembai Bangga Batik Saireri Karya Mama Papua Tampil Unik dan Mendunia

Senin, 27 April 2026 - 11:30 WIT

DPRK Yapen Ikuti Bintek di Jakarta, Perkuat Kompetensi Wujudkan Pemerintahan Bersih

Berita Terbaru