Serui, Kepulauan Yapen — Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Kepulauan Yapen, Ebzon Sembai menghadiri Pameran Batik Canting dan Kolaborasi UMKM yang digelar di Alun-alun Lapangan Trikora, pusat Kota Serui, Selasa (12/5/2026). Dalam kegiatan tersebut, ia didampingi sang istri, Adomina Elisabet Maniani.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehadiran Ketua DPRK Yapen disambut antusias para pelaku UMKM dan mama-mama Papua yang menampilkan beragam karya batik bercorak khas rumpun Saireri. Menurut Ebzon Sembai, perkembangan batik canting di Kepulauan Yapen menunjukkan kemajuan luar biasa dalam mengangkat potensi budaya lokal.
“Kami melihat saat ini masyarakat kita mampu mengembangkan potensi kearifan lokal daerah Kepulauan Yapen dengan motif khas Papua dari rumpun Saireri,” ujarnya kepada awak media.
Ebzon juga memberikan apresiasi tinggi terhadap kreativitas mama-mama Papua yang mampu menghadirkan motif batik dengan ciri khas dan warna berbeda.
“Inilah keunikan kami Papua yang tidak bisa dimiliki oleh orang lain,” katanya.
Ia menilai, pameran batik dan kolaborasi UMKM tersebut bukan sekadar ajang promosi produk lokal, tetapi juga menjadi wadah penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat serta peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
Karena itu, Ketua DPRK Yapen meminta pemerintah daerah memberikan dukungan penuh kepada para pengrajin batik lokal agar terus menghasilkan karya terbaik yang dapat dikenal lebih luas.
“Pemda harus memberikan dukungan penuh kepada mama-mama Papua ini agar bisa menciptakan motif-motif terbaik untuk digunakan seluruh masyarakat yang mendiami pulau panjang ini,” tegasnya.
Dalam kunjungan tersebut, Ketua DPRK bersama unsur Forkopimda turut mengunjungi sejumlah stand pameran batik dan UMKM. Mereka juga mencoba langsung teknik membatik dengan mencap ukiran batik pada kain putih. Beragam motif yang dipamerkan tampak unik dan kental dengan identitas budaya Saireri.
Tidak hanya melihat hasil karya, Ebzon Sembai juga mendampingi istrinya memilih dan membeli kain batik khas Yapen. Bahkan, ia turut melilitkan kain batik tersebut di tubuhnya sebagai bentuk kecintaan terhadap budaya Papua.

Menurutnya, penggunaan kain batik lokal bukan hanya simbol penampilan semata, tetapi bentuk penghormatan terhadap adat, budaya, dan masyarakat Papua.
Ia pun mengajak generasi muda Papua untuk terus mencintai dan menjaga budaya sebagai bagian dari jati diri.
“Budaya bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga kekuatan yang menyatukan, membimbing, dan memberi kebanggaan. Jika budaya dijaga dengan hati, maka adat, bahasa, dan nilai-nilai luhur akan tetap hidup di tengah perubahan zaman,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ketua DPRK Yapen yang akrab disapa Wadevai menegaskan bahwa budaya harus terus diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman.
“Cinta kepada Papua berarti cinta kepada budayanya. Kita bangga mengenakan simbol adat, tarian, serta nilai-nilai budaya agar tidak hilang oleh perkembangan zaman. Sebab, budaya adalah akar, dan generasi muda adalah pohonnya yang harus tumbuh kuat tanpa melupakan asal-usulnya,” pungkasnya.
Penulis : Hamsah
Editor : Tim Editor








